“Kesuksesan belajar dan bekerja kita dalam hidup sebagian besar ditemtukan oleh AQ kita, bukan hanya IQ ataupun EQ tapi lebih pada semangat berjuang”
Adversity Quotient (AQ) menjadi demikian penting dalam menentukan kesuksesan hidup kita. Karena AQ akan menunjukkan seberapa baik kita dapat menghadapi kesulitan dan mengatasinya. AQ juga merupakan laat ukur yang dapat memprediksi siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang jatuh, menyerah atau menang, berhasil, bahkan yang akan gagal.
Dulu, orang dianggap cerdas bila memiliki IQ tinggi. Bagaimana mengembangkan IQ adalah hal yang sulit. Tapi kini, kecerdasan sendiri telah berkembang di luar batasan kemampuan matematik dan linguistic. Bahkan menurut Howard Gardner, salah seorang professor pendidikan dari Harvard menyimpulkan bahwa manusia sesungguhnya memiliki Multiple Intelligence, dimana setiap manusia memiliki potenasi kecerdasannya sendiri.
Sehingga bila ada orang yang tidak senang fisika, amtematika atau kimia, bias jadi ia mungkin senang ebrmain musik. Ia mungkin akan lebih cerdas berkreasi dengan not-not balok. Baginya, hal itu lebih menyenangkan daripada bermain dengan angka-angka hitungan. Bisa juga, ia adalah tipe orang yang senang bergaul dan bias menarik simpati orang lain. Atau mungkin ia termasuk orang yang memilki kecerdasan di bidang interpersonal. Bisa bergaul dan memiliki relasi yang baik dengan orang lain.
Faktor inilah yang menjadikan Paul G. Stoltz, Ph.D dalam bukunya “Adevrsity Quotient: Mengubah Rintangan enjadi Peluang” melengkapi kecakapan manusia dengan AQ (Adversity Quotient), karena IQ dan EQ saja belum memadai untuk menjamin kesuksesan belajar seseorang. Secara sederhana Paul mengembangkan rumus kecerdasan itu sebagai berikut :
Kecerdasan = IQ + EQ * AQ
IQ = Intelligence Quotient
EQ = Emotional Quotient
AQ = Adversity Quotient
Apa itu AQ?
Adversity Quotient adalah kerangka piker baru untuk memahami dan memperbaiki semua fase keberhasilan. AQ merupaka kemampuan untuk bertahan di tengah halangan dan rintangan. AQ adalah suatu cara pandang kita untuk melihat hidup ini seperti sebuah perjalanan, sebuah pendakian.
Dengan demikian, bila kita memahaminya, maka sebuah tujuan hidup ini adalah ibarat sebuah puncak gunung yang akan kita daki. Sudah siapkah kita untuk mendaki?
Untuk itulah AQ menjadi sedemikian penting dalam hidup kita kita. Pertama, AQ menunjukkan seberapa baik kita adapt bertahan menghadapi kesulitan dan mengatasinya. Penelitian menunjukkan bahwa orang sukses adalah orang yang tetap gigih berusaha, meskipun banyak rintangan, bahkan terancam bayangan kegagalan sekalipun. Tidak ada orang yang mencapai sukses sejati tanpa merasakan kegagalan sebelumnya.
Gregor Mendel, seorang rahib dari Austria, menemukan prinsip-prinsip keturunan. Ia tidak lulus sampai tiga kali, tetapi ia tetap melanjutkan percobaanya dalam mengembangkan tanaman. Dia mengawinkan 21.000 tanaman selama lebih dari 20 tahun. Mebuat analisa statistic secara rinci tentang pengamatannya, ampai akhirnya ia dapat nmembuka tabir rahasia yang berhubungan dengan azas-azas jeturunan. Kini, karyanya dipakai oleh para ilmuwan sampai sesudah matinya.
Kedua, AQ merupakan alat ukur yang dapat memprediksi siapa yang mampu mengatsi kesulitan dan siapa yang jatuh. Semua orang memiliki potensi besar untuk menjadi sukses, namun sedikit orang yang meyakini potensi dirinya bahwa ia bias sukses. Orang yang memiliki keyakinan akan potensi dirinya dapat bekerja dengan baik, tenang dan melangkah pasti. Sementara orang yang meragukan kemampuan dirinya akan bekerja dengan kinerja rendah.
Tipe manusia AQ
Ada tipe manusia yang dapat diklasifikasikan menurut AQ, yaitu Qitter, Camper dan Climber. Tipe Quitter adalah mereka dengan cirri-ciri suka menghentikan, mengabaikan and meninggalkan yang ditawarkan oleh kehidupan. Lebih memil8ih jalan yang datar dan relative mudah, serta senang berorientasi ke belakang sehingga seringkali terlihat sinis, murungh, frustasi, dan apatis.
Sedangkan tipe Camper adalah orang-orang yang mudah merasa bosan dalam mendaki kehidupan, seakan lelah dan mencari tempat yang datar untuk beritirahat. Meski mereka telah menunjukkan semangat berprestasi, sejumlah inisiatif dan beberapa usaha yang membuat mereka merasa lebih aman telah mereka jalankan. Tapi sifat ini tidak akan mau mengambil resiko untuk dipecat, merasa terancam oleh sejumlah orang yang melakukan prestasi adalah sifat pembawaan yang menadikannya justru merasa dikejar-kejar kekhawatiran.
Tipe yang ketiga, Climber yaitu orang-orang yang menjalani hidu[pnya secara lengkap, yakin bahwa sukses ini tidak ada akhirnya, kadang-kadang bosan, lelah, sakit hati atau ragu-ragu. Sehingga mereka berkumpul dengan Campers untuk memulihkan kondisinya, tetapi bukan untuk berhenti. Mereka tidak berhenti pada gelar atau jabatan, tetapi terus mencari cara untuk berkontribusi dan mengembangkan pada nilai-nilai yang lebih tinggi (ibadah).
Bagaimana mengembangkan AQ
Kunci mengembangkan AQ adalah menetapkan keyakinan bahwa kita mampu mengatasainya. Seperti kata orang bijak, “Bertahanlah karena badai pasti berlalu.” Bukankah semua persoalan yang kita hadapi ini pada dasarnya adalah proses pelatihan. Bila kita lulus dalam masalah ini maka kita akan banyak memetik pelajaran di dalamnya. Kemudian mengembangkan AQ?
Pertama, tekadkan komitmen (niat) terhadap suatu tujuan/sasaran/kesusksesan. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS AL Baqarah:286)
Kedua, hadapi rintangan, jangan menghindar. “Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS ALam Nasyrah: 6 – 7)
Ketiga, jadilah proaktif dengan mengendalikan rintangan dengan komsep LEAD, yaitu Listened, dengan dan temukan sesuatu yang salah. Explore, gali asal dan peran dalam persoalan ini. Analyze, analisalah fakta-fakta dan temukan beberapa factor yang mendukung. Do, lakukan suatu tindakan nyata untuk menghadapinya.
Keempat, jika kondisi dirasa mentok: istirahatlah dan asah gergaji Anda. Bersiaplah untuk mendaki lagi bila kondisi Anda dan lingkunagn sudah mendukung.
Dengan emmahami konsep AQ dan konsep pengembangannya, paling tidak kita bias meneropong diri kita selama ini. Apakah tipe Quitter, tipe Camper, atau tipe Climber. Bila kita masih di ipe pertama, atau kedua, bagaimana kita mesti meng-upgrade mental juang kita untuk menjadi tipe yang terakhir, pendaki puncak. AQ mengajarkan suatu prinsip dasar untuk sukses, yaitu kemampuan untuk bertahan di tengah halangan dan rintangan.
(sumber : Tarbawi Edisi 84 Th. 5/Rabi’ul Awwal 1425 H/13 Mei 2004 M, hal. 70 – 71)